Ubah Pendekatan Metode Mengajar dan Bimbingan Penelitian, 4 Dosen Dianugerahi Gelar Profesor Terbaik di AS

Jumat, 18 Nov 2011 09:10 WIB

AMERIKA SERIKAT, RIMANEWS – Empat orang dosen di Amerika Serikat menerima gelar US Professors of the Year 2011. Empat orang pemilik gelar profesor ini dianugerahi gelar tertinggi karena berhasil mengubah pendekatan dalam metode mengajar dan bimbingan penelitian.

Lembaga Carnegie untuk Kemajuan Pengajaran (CFAT) dan Dewan untuk Pengembangan dan Dukungan Pendidikan (CASE) memberikan gelar kepada para dosen yang unggul dalam mengajar dan membimbing mahasiswa level sarjana.

Penghargaan ini merupakan ajang paling bergengsi di Amerika. Para pemenangnya dipilih dari empat jenis perguruan tinggi yakni community college, baccalaureate college, pascasarjana, dan universitas penelitian.

Penghargaan tahun ini dipilih dari 300 calon yang dievaluasi berdasarkan keterlibatan mereka dengan mahasiswa, kontribusi mereka kepada masyarakat dan profesi, dukungan mereka terhadap rekan seprofesi dan mahasiswa, serta metodologi pengajaran.

Bagaimana metode pengajaran dosen istimewa ini? Dan perubahan apa saja yang telah mereka lakukan? Berikut daftarnya seperti dikutip dari The Chronicle, Jumat (18/11/2011).

Ursula Shepherd, pengajar di University of New Mexico

Shepherd telah mengajar selama 15 tahun di University of New Mexico. Dia merupakan profesor biologi dengan gelar kehormatan. Shepherd membuat kelasnya lebih interaktif, karena memungkinkan mahasiswa merancang eksperimen sendiri dan menciptakan portofolio dari pekerjaan mereka. Dia memberikan kesempatan kepada mahasiswa sarjana untuk melakukan proyek penelitian sendiri. Ini berguna untuk mengajarkan mereka berpikir kritis.

Shepherd mulai berkreasi setelah mendengar nasihat dari profesornya. “Dia (sang profesor) berkata, untuk menjadi dosen yang hebat, Anda harus menjadi aktor, memperhatikan audiens Anda, dan bersedia melakukan kesalahan serta mengambil risiko untuk memperbaikinya,” ujar Shepherd mengenai nasihat sang profesor.

Sejak itu, dia mulai memperhatikan respons mahasiswa atas metode mengajarnya dan membuat penyesuaian. “Kadang-kadang kelas tidak bekerja. Saya harus berjalan ke setiap kelas dan mengatakan, kita akan mengubah silabus, dan kita akan melakukan hal berbeda. Ini biasanya mendapat perhatian dari mahasiswa karena biasanya orang tidak melakukannya kepada mereka,” jelasnya.

Kathryn C Wetzel, pengajar di Amarillo College

Wetzel merupakan Kepala Departemen Matematika, Ilmu Pengetahuan, dan Teknik di Amarillo. Dia telah mengajar selama 25 tahun. Di kelas matematika dan teknik, Wetzel mengajar dengan aplikasi dunia nyata. Wetzel mengaku menjadi lebih baik, setelah belajar mendengarkan mahasiswanya saling berbicara.

“Saya akan mendengarkan satu mahasiswa yang menjelaskan sesuatu kepada mahasiswa lain, dan sebuah cahaya akan hidup. Saya berkata, ‘Itu adalah kunci yang selama ini saya cari.’”

Belajar bagaimana mahasiswa memproses dan menyerap informasi baru telah mengubah gaya mengajar Wetzel secara signifikan. Pasalnya, kelas menjadi lebih interaktif. “Saya akan mengetahui apakah mereka mengerti dan mengingat sesuatu berdasarkan respons mereka. Saya belajar apa yang efektif untuk mereka, dan kemudian menerapkannya kepada mahasiswa berikutnya,” jelas Wetzel.

Steven S Volk, pengajar di Oberlin College

Volk merupakan profesor sejarah dan Kepala Divisi Studi Amerika Latin di Oberlin College. Dia telah mengajar selama 26 tahun. Untuk memaksimalkan kegiatan diskusi di kelas, Volk mem-posting video materi kuliahnya melalui dunia maya, sehingga mahasiswa bisa menyaksikannya sebelum kuliah. Volk mengaku melakukan hal ini agar mahasiswa dapat berperan aktif dalam proses belajar.

“Setiap kelas adalah diskusi, karena itu adalah cara mahasiswa membangun pemahaman dan pengetahuan mereka sendiri, daripada saya mengatakan kepada mereka apa yang terjadi,” katanya.

Diskusi yang mendalam di ruang kuliah membuat partisipasi dan minat mahasiswa akan suatu topik, meningkat luar biasa. “Tidak ada mahasiswa yang tidak memperhatikan. Mereka tidak tidur di kelas, bermain Facebook, mereka tidak melakukan hal yang biasa terjadi saat kuliah, karena setiap orang harus berpartisipasi,” jelasnya.

Stephen L. Chew, pengajar di Samford University

Chew merupakan profesor dan Kepala Departemen Psikologi di Samford. Dia sangat mendukung penelitian mahasiswa sarjana. Dia ingin membantu mereka memperoleh pengalaman praktis di bidang masing-masing. Chew mengacu pada latar belakang psikologinya dan penelitian tentang pembelajaran kognitif untuk mengembangkan strategi mengajar yang lebih baik.

“Saya mempelajari cara mahasiswa belajar dan berpikir untuk menginformasikan cara mengajar. Saya lebih sadar dari cara mereka mempersepsikan informasi dan bagaimana mereka menggunakannya,” jelasnya.

Kuncinya adalah mengetahui tingkat pemahaman mahasiswa. “Pengajar harus bertemu mahasiswa di mana pun mereka berada, memahami keyakinan dan kesalahpahaman mereka, dan kemudian membawa ke mana mereka ingin menjadi (di masa depan),” tambahnya.

Dia juga membantu mahasiswanya mengembangkan keterampilan belajar yang lebih baik, berbicara mengenai kesalahpahaman belajar dan kebiasaan buruk yang merusak proses pembelajaran.

“Saya mengukur keberhasilan berdasarkan apa yang diterima mahasiswa saya dari kelas. Saya tertarik untuk mengetahui apa yang bisa mereka lakukan setelah mengikuti kelas saya,” pungkasnya. [mam/oke]

Tentang munirshine

lebih jelas tanya langsung
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s