materi kuliah Filsafat Pendidikan Islam

Main menu

Lompat ke isi

Mustolih Brs

Jadilah sesuatu yang tidak mungkin


Filsafat Pendidikan Islam

Posted on Maret 4, 2008 by Brs Mustolih

A. Pendahuluan

Setiap orang memiliki filsafat walaupun ia mungkin tidak sadar akan hal tersebut. Kita semua mempunyai ide-ide tentang benda-benda, tentang sejarah, arti kehidupan, mati, Tuhan, benar atau salah, keindahan atau kejelekan dan sebagainya. 1) Filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan dan alam yang biasanya diterima secara tidak kritis. Definisi tersebut menunjukkan arti sebagai informal. 2) Filsafat adalah suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan yang sikap yang sangat kita junjung tinggi. Ini adalah arti yang formal. 3) Filsafat adalah usaha untuk mendapatkan gambaran keseluruhan. 4) Filsafat adalah sebagai analisa logis dari bahasa serta penjelasan tentang arti kata dan konsep. 5) Filsafat adalah sekumpulan problema-problema yang langsumg yang mendapat perhatian dari manusia dan yang dicarikan jawabannya oleh ahli-ahli filsafat. Dari beberapa definisi tadi bahwasanya semua jawaban yang ada difilsafat tadi hanyalah buah pemikiran dari ahli filsafat saja secara rasio. Banyak orang termenung pada suatu waktu. Kadang-kadang karena ada kejadian yang membingungkan dan kadang-kadang hanya karena ingin tahu, dan berfikir sungguh-sungguh tentang soal-soal yang pokok. Apakah kehidupan itu, dan mengapa aku berada disini? Mengapa ada sesuatu? Apakah kedudukan kehidupan dalam alam yang besar ini ? Apakah alam itu bersahabat atau bermusuhan ? apakah yang terjadi itu telah terjadi secara kebetulan ? atau karena mekanisme, atau karena ada rencana, ataukah ada maksud dan fikiran didalam benda . Semua soal tadi adalah falsafi, usaha untuk mendapatkan jawaban atau pemecahan terhadapnya telah menimbulkan teori-teori dan sistem pemikiran seperti idealisme, realisme, pragmatisme. Oleh karena itu filsafat dimulai oleh rasa heran, bertanya dan memikir tentang asumsi-asumsi kita yang fundamental (mendasar), maka kita perlukan untuk meneliti bagaimana filsafat itu menjawabnya. B. Pengertian Filsafat pendidikan Islam Secara harfiah, kata filsafat berasal dari kata Philo yang berarti cinta, dan kata Sophos yang berarti ilmu atau hikmah. Dengan demikian, filsafat berarti cinta cinta terhadap ilmu atau hikmah. Terhadap pengertian seperti ini al-Syaibani mengatakan bahwa filsafat bukanlah hikmah itu sendiri, melainkan cinta terhadap hikmah dan berusaha mendapatkannya, memusatkan perhatian padanya dan menciptakan sikap positif terhadapnya. Selanjutnya ia menambahkan bahwa filsafat dapat pula berarti mencari hakikat sesuatu, berusaha menautkan sebab dan akibat, dan berusaha menafsirkan pengalaman-pengalaman manusia. Selain itu terdapat pula teori lain yang mengatakan bahwa filsafat berasal dari kata Arab falsafah, yang berasal dari bahasa Yunani, Philosophia: philos berarti cinta, suka (loving), dan sophia yang berarti pengetahuan, hikmah (wisdom). Jadi, Philosophia berarti cinta kepada kebijaksanaan atau cinta kepada kebenaran atau lazimnya disebut Pholosopher yang dalam bahasa Arab disebut failasuf. Sementara itu, A. Hanafi, M.A. mengatakan bahwa pengertian filsafat telah mengalami perubahan-perubahan sepanjang masanya. Pitagoras (481-411 SM), yang dikenal sebagai orang yang pertama yang menggunakan perkataan tersebut. Dari beberapa kutipan di atas dapat diketahui bahwa pengertian fisafat dar segi kebahsan atau semantik adalah cinta terhadap pengetahuan atau kebijaksanaan. Dengan demikian filsafat adalah suatu kegiatan atau aktivitas yang menempatkan pengetahuan atau kebikasanaan sebagai sasaran utamanya. Filsafat juga memilki pengertian dari segi istilah atau kesepakatan yang lazim digunakan oleh para ahli, atau pengertian dari segi praktis. Selanjutnya bagaimanakah pandangan para ahli mengenai pendidikan dalam arti yang lazim digunakan dalam praktek pendidikan.Dalam hubungan ini dijumpai berbagai rumusan yang berbeda-beda. Ahmad D. Marimba, misalnya mengatakan bahwa pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si – terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama. Berdasarkan rumusannya ini, Marimba menyebutkan ada lima unsur utama dalam pendidikan, yaitu 1) Usaha (kegiatan) yang bersifat bimbingan, pimpinan atau pertolongan yang dilakukan secara sadar. 2) Ada pendidik, pembimbing atau penolong. 3) Ada yang di didik atau si terdidik. 4) Adanya dasar dan tujuan dalam bimbingan tersebut, dan. 5) Dalam usaha tentu ada alat-alat yang dipergunakan. Sebagai suatu agama, Islam memiliki ajaran yang diakui lebih sempurna dan kompherhensif dibandingkan dengan agama-agama lainnya yang pernah diturunkan Tuhan sebelumnya. Sebagai agama yang paling sempurna ia dipersiapkan untuk menjadi pedoman hidup sepanjang zaman atau hingga hari akhir. Islam tidak hanya mengatur cara mendapatkan kebahagiaan hidup di akhirat, ibadah dan penyerahan diri kepada Allah saja, melainkan juga mengatur cara mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia termasuk di dalamnya mengatur masalah pendidikan. Sumber untuk mengatur masalah pendidikan. Sumber untuk mengatur kehidupan dunia dan akhirat tersebut adalah al Qur’an dan al Sunnah. Sebagai sumber ajaran, al Qur’an sebagaimana telah dibuktikan oleh para peneliti ternyata menaruh perhatian yang besar terhadap masalah pendidikan dan pengajaran. Demikian pula dengan al Hadist, sebagai sumber ajaran Islam, di akui memberikan perhatian yang amat besar terhadap masalah pendidikan. Nabi Muhammad SAW, telah mencanangkan program pendidikan seumur hidup ( long life education ). Dari uraian diatas, terlihat bahwa Islam sebagai agama yang ajaran-ajarannya bersumber pada al- Qur’an dan al Hadist sejak awal telah menancapkan revolusi di bidang pendidikan dan pengajaran. Langkah yang ditempuh al Qur’an ini ternyata amat strategis dalam upaya mengangkat martabat kehidupan manusia. Kini di akui dengan jelas bahwa pendidikan merupakan jembatan yang menyeberangkan orang dari keterbelakangan menuju kemajuan, dan dari kehinaan menuju kemuliaan, serta dari ketertindasan menjadi merdeka, dan seterusnya. Dasar pelaksanaan Pendidikan Islam terutama adalah al Qur’an dan al Hadist Firman Allah : “ Dan demikian kami wahyukan kepadamu wahyu (al Qur’an) dengan perintah kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah iman itu, tetapi kami menjadikan al Qur’an itu cahaya yang kami kehendaki diantara hamba-hamba kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benarbenar memberi petunjuk kepada jalan yang benar ( QS. Asy-Syura : 52 )” Dan Hadis dari Nabi SAW : “ Sesungguhnya orang mu’min yang paling dicintai oleh Allah ialah orang yang senantiasa tegak taat kepada-Nya dan memberikan nasihat kepada hamba-Nya, sempurna akal pikirannya, serta mengamalkan ajaran-Nya selama hayatnya, maka beruntung dan memperoleh kemenangan ia” (al Ghazali, Ihya Ulumuddin hal. 90)” Dari ayat dan hadis di atas tadi dapat diambil kesimpulan : 1. Bahwa al Qur’an diturunkan kepada umat manusia untuk memberi petunjuk kearah jalan hidup yang lurus dalam arti memberi bimbingan dan petunjuk kearah jalan yang diridloi Allah SWT. 2. Menurut Hadist Nabi, bahwa diantara sifat orang mukmin ialah saling menasihati untuk mengamalkan ajaran Allah, yang dapat diformulasikan sebagai usaha atau dalam bentuk pendidikan Islam. 3. Al Qur’an dan Hadist tersebut menerangkan bahwa nabi adalah benar-benar pemberi petunjuk kepada jalan yang lurus, sehingga beliau memerintahkan kepada umatnya agar saling memberi petunjuk, memberikan bimbingan, penyuluhan, dan pendidikan Islam. Bagi umat Islam maka dasar agama Islam merupakan fondasi utama keharusan berlangsungnya pendidikan. Karena ajaran Islam bersifat universal yang kandungannya sudah tercakup seluruh aspek kehidupan ini. Pendidikan dalam arti umum mencakup segala usaha dan perbuatan dari generasi tua untuk mengalihkan pengalamannya, pengetahuannya, kecakapannya, serta keterampilannya kepada generasi muda untuk memungkinkannya melakukan fungsi hidupnya dalam pergaulan bersama, dengan sebaik-baiknya. Corak pendidikan itu erat hubungannya dengan corak penghidupan, karenanya jika corak penghidupan itu berubah, berubah pulalah corak pendidikannya, agar si anak siap untuk memasuki lapangan penghidupan itu. Pendidikan itu memang suatu usaha yang sangat sulit dan rumit, dan memakan waktu yang cukup banyak dan lama, terutama sekali dimasa modern dewasa ini. Pendidikan menghendaki berbagai macam teori dan pemikiran dari para ahli pendidik dan juga ahli dari filsafat, guna melancarkan jalan dan memudahkan cara-cara bagi para guru dan pendidik dalam menyampaikan ilmu pengetahuan dan pengajaran kepada para peserta didik. Kalau teori pendidikan hanyalah semata-mata teknologi, dia harus meneliti asumsi-asumsi utama tentang sifat manusia dan masyarakat yang menjadi landasan praktek pendidikan yang melaksanakan studi seperti itu sampai batas tersebut bersifat dan mengandung unsur filsafat. Memang ada resiko yang mungkin timbul dari setiap dua tendensi itu, teknologi mungkin terjerumus, tanpa dipikirkan buat memperoleh beberapa hasil konkrit yang telah dipertimbangkan sebelumnya didalam sistem pendidikan, hanya untuk membuktikan bahwa mereka dapat menyempurnakan suatu hasil dengan sukses, yang ada pada hakikatnya belum dipertimbangkan dengan hati-hati sebelumnya. Sedangkan para ahli filsafat pendidikan, sebaiknya mungkin tersesat dalam abstraksi yang tinggi yang penuh dengan debat tiada berkeputusan,akan tetapi tanpa adanya gagasan jelas buat menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang ideal. Tidak ada satupun dari permasalahan kita mendesak dapat dipecahkan dengan cepat atau dengan mengulang-ulang dengan gigih kata-kata yang hampa. Tidak dapat dihindari, bahwa orang-orang yang memperdapatkan masalah ini, apabila mereka terus berpikir,yang lebih baik daripada mengadakan reaksi, mereka tentu akan menyadari bahwa mereka itu telah membicarakan masalah yang sangat mendasar. Sebagai ajaran (doktrin) Islam mengandung sistem nilai diatas mana proses pendidikan Islam berlangsung dan dikembangkan secara konsisten menuju tujuannya. Sejalan dengan pemikiran ilmiah dan filosofis dari pemikir-pemikir sesepuh muslim, maka sistem nilai-nilai itu kemudian dijadikan dasar bangunan (struktur) pendidikan islam yang memiliki daya lentur normatif menurut kebutuhan dan kemajuan. Pendidikan Islam mengidentifikasi sasarannya yang digali dari sumber ajarannya yaitu Al Quran dan Hadist, meliputi empat pengembangan fungsi manusia : <!–[if !supportLists]–>1) <!–[endif]–>Menyadarkan secara individual pada posisi dan fungsinya ditengah-tengah makhluk lain serta tanggung jawab dalam kehidupannya. <!–[if !supportLists]–>2) <!–[endif]–>Menyadarkan fungsi manusia dalam hubungannya dengan masyarakat, serta tanggung jawabnya terhadap ketertiban masyarakatnya. <!–[if !supportLists]–>3) <!–[endif]–>Menyadarkan manusia terhadap pencipta alam dan mendorongnya untuk beribadah kepada Nya Menyadarkan manusia tentang kedudukannya terhadap makhluk lain dan membawanya agar memahami hikmah tuhan menciptakan makhluk lain, serta memberikan kemungkinan kepada manusia untuk mengambil manfaatnya Setelah mengikuti uraian diatas kiranya dapat diketahui bahwa Filsafat Pendidikan Islam itu merupakan suatu kajian secara filosofis mengenai masalah yang terdapat dalam kegiatan pendidikan yang didasarkan pada al Qur’an dan al Hadist sebagai sumber primer, dan pendapat para ahli, khususnya para filosof Muslim, sebagai sumber sekunder. Dengan demikian, filsafat pendidikan Islam secara singkat dapat dikatakan adalah filsafat pendidikan yang berdasarkan ajaran Islam atau filsafat pendidikan yang dijiwai oleh ajaran Islam, jadi ia bukan filsafat yang bercorak liberal, bebas, tanpa batas etika sebagaimana dijumpai dalam pemikiran filsafat pada umumnya. C. Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan Islam Penjelasan mengenai ruang lingkup ini mengandung indikasi bahwa filsafat pendidikan Islam telah diakui sebagai sebuah disiplin ilmu. Hal ini dapat dilihat dari adanya beberapa sumber bacaan, khususnya buku yang menginformasikan hasil penelitian tentang filsafat pendidikan Islam. Sebagai sebuah disiplin ilmu, mau tidak mau filsafat pendidikan Islam harus menunjukkan dengan jelas mengenai bidang kajiannya atau cakupan pembahasannya. Muzayyin Arifin menyatakan bahwa mempelajari filsafat pendidikan Islam berarti memasuki arena pemikiran yang mendasar, sistematik. Logis, dan menyeluruh (universal) tentang pendidikan, ysng tidak hanya dilatarbelakangi oleh pengetahuan agama Islam saja, melainkan menuntut kita untuk mempelajari ilmu-ilmu lain yang relevan. Pendapat ini memberi petunjuk bahwa ruang lingkup filsafat Pendidikan Islam adalah masalah-masalah yang terdapat dalam kegiatan pendidikan, seperti masalah tujuan pendidikan, masalah guru, kurikulum, metode, dan lingkungan. D. Kegunaan Filsafat Pendidikan Islam Prof. Mohammad Athiyah abrosyi dalam kajiannya tentang pendidikan Islam telah menyimpulkan 5 tujuan yang asasi bagi pendidikan Islam yang diuraikan dalam “ At Tarbiyah Al Islamiyah Wa Falsafatuha “ yaitu : 1. Untuk membantu pembentukan akhlak yang mulia. Islam menetapkan bahwa pendidikan akhlak adalah jiwa pendidikan Islam. 2. Persiapan untuk kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Pendidikan Islam tidak hanya menaruh perhatian pada segi keagamaan saja dan tidak hanya dari segi keduniaan saja, tetapi dia menaruh perhatian kepada keduanya sekaligus. 3. Menumbuhkan ruh ilmiah pada pelajaran dan memuaskan untuk mengetahui dan memungkinkan ia mengkaji ilmu bukan sekedar sebagai ilmu. Dan juga agar menumbuhkan minat pada sains, sastra, kesenian, dalam berbagai jenisnya. 4. Menyiapkan pelajar dari segi profesional, teknis, dan perusahaan supaya ia dapat mengusai profesi tertentu, teknis tertentu dan perusahaan tertentu, supaya dapat ia mencari rezeki dalam hidup dengan mulia di samping memelihara dari segi kerohanian dan keagamaan. 5. Persiapan untuk mencari rezeki dan pemeliharaan segi-segi kemanfaatan. Pendidikan Islam tidaklah semuanya bersifat agama atau akhlak, atau sprituil semata-mata, tetapi menaruh perhatian pada segi-segi kemanfaatan pada tujuan-tujuan, kurikulum, dan aktivitasnya. Tidak lah tercapai kesempurnaan manusia tanpa memadukan antara agama dan ilmu pengetahuan. E. Metode Pengembangan Filsafat Pendidikan Islam Sebagai suatu metode, pengembangan filsafat pendidikan Islam biasanya memerlukan empat hal sebagai berikut : Pertama, bahan-bahan yang akan digunakan dalam pengembangan filsafat pendidikan. Dalam hal ini dapat berupa bahan tertulis, yaitu al Qur’an dan al Hadist yang disertai pendapat para ulama serta para filosof dan lainnya ; dan bahan yang akan di ambil dari pengalaman empirik dalam praktek kependidikan. Kedua, metode pencarian bahan. Untuk mencari bahan-bahan yang bersifat tertulis dapat dilakukan melalui studi kepustakaan dan studi lapangan yang masing-masing prosedurnya telah diatur sedemikian rupa. Namun demikian, khusus dalam menggunakan al Qur’an dan al Hadist dapat digunakan jasa Ensiklopedi al Qur’an semacam Mu’jam al Mufahras li Alfazh al Qur’an al Karim karangan Muhammad Fuad Abd Baqi dan Mu’jam al muhfars li Alfazh al Hadist karangan Weinsink. Ketiga, metode pembahasan. Untuk ini Muzayyin Arifin mengajukan alternatif metode analsis-sintesis, yaitu metode yang berdasarkan pendekatan rasional dan logis terhadap sasaran pemikiran secara induktif, dedukatif, dan analisa ilmiah. Keempat, pendekatan. Dalam hubungannya dengan pembahasan tersebut di atas harus pula dijelaskan pendekatan yang akan digunakan untuk membahas tersebut. Pendekatan ini biasanya diperlukan dalam analisa, dan berhubungan dengan teori-teori keilmuan tertentu yang akan dipilih untuk menjelaskan fenomena tertentu pula. Dalam hubungan ini pendekatan lebih merupakan pisau yang akan digunakan dalam analisa. Ia semacam paradigma (cara pandang) yang akan digunakan untuk menjelaskan suatu fenomena. F. Penutup. Islam dengan sumber ajarannya al Qur’an dan al Hadist yang diperkaya oleh penafsiran para ulama ternyata telah menunjukkan dengan jelas dan tinggi terhadap berbagai masalah yang terdapat dalam bidang pendidikan. Karenanya tidak heran ntuk kita katakan bahwa secara epistimologis Islam memilki konsep yang khas tentang pendidikan, yakni pendidikan Islam. Demikian pula pemikiran filsafat Islam yang diwariskan para filosof Muslim sangat kaya dengan bahan-bahan yang dijadikan rujukan guna membangun filsafat pendidikan Islam. Konsep ini segera akan memberikan warna tersendiri terhadap dunia pendidikan jika diterapkan secara konsisten. Namun demikian adanya pandangan tersebut bukan berarti Islam bersikap ekslusif. Rumusan, ide dan gagasan mengenai kependidikan yang dari luar dapat saja diterima oleh Islam apabila mengandung persamaan dalam hal prinsip, atau paling kurang tidak bertentangan. Tugas kita selanjutnya adalah melanjutkan penggalian secara intensif terhadap apa yang telah dilakukan oleh para ahli, karena apa yang dirumuskan para ahli tidak lebih sebagai bahan perbangdingan, zaman sekarang berbeda dengan zaman mereka dahulu. Karena itu upaya penggalian masalah kependidikan ini tidak boleh terhenti, jika kita sepakat bahwa pendidikan Islam ingin eksis ditengah-tengah percaturan global. DAFTAR PUSTAKA Ahmad Hanafi, M.A., Pengantar Filsafat Islam, Cet. IV, Bulan Bintang, Jakarta, 1990. Prasetya, Drs., Filsafat Pendidikan, Cet. II, Pustaka Setia, Bandung, 2000 Titus, Smith, Nolan., Persoalan-persoalan Filsafat, Cet. I, Bulan Bintang, Jakarta, 1984. Ali Saifullah H.A., Drs., Antara Filsafat dan Pendidikan, Usaha Nasional, Surabaya, 1983. Zuhairini. Dra, dkk., Filsafat Pendidikan Islam, Cet.II, Bumi Aksara, Jakarta, 1995. Abuddin Nata, M.A., Filsafat Pendidikan Islam, Cet. I, Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 1997

Like this:

Suka

Be the first to like this post.

Categories: Filsafat Pendidikan Islam|44 Komentar

Post navigation

← Older post

Newer post →

44 thoughts on “Filsafat Pendidikan Islam”
  1. April 7, 2008

    huda

    tlong bantuin cariin arti tabdil dan tasyri
    fungsi terhadap alquran

    Balas

  2. April 21, 2008

    arif UIN malang

    makasich informasinya………………..
    tolong kalau ada peluang beasiswa saya dikasih informasi………………………..

    Balas

  3. Juni 18, 2008

    muklis

    artikel ini bagus dan sangat berguna untuk pelajar, khususnya untuk saya yang sedang mengerjakan tugas orang lain. he…3 x

    Balas

  4. Juli 17, 2008

    Noriman STAI-MU

    Artikel ini sangat bagus dan sangat berguna bagi saya untuk melengkapi tugas smester saya dan juga dengan adanya artikel ini tugas saya dapat selesai dengan mudah….

    Thanks,

    Balas

  5. Juli 17, 2008

    Joni Haryanto STAI-MU

    Wah artikel ini bgs sekali, sangat membantu bagi pelajar2 sekalian… sering2 dong nampilin artikel kayak gini!… he…he… *_*

    Balas

  6. Juli 17, 2008

    Noriman STAI-MU

    Wah artikel ini bgs sekali, sangat membantu bagi pelajar2 sekalian terutama bagi saya yang lagi ngerjain tugas… sering2 dong nampilin artikel kayak gini!… he…he… *_*

    Balas

  7. Juli 30, 2008

    kusmin

    thanks ya!!!!!!!!!!!!

    Balas

  8. September 16, 2008

    aina

    salam..ble bgtau x biodata A.Hanafi.M.A…
    sy sdg wat perbincngan tntg buku beliau tp blum jmpe lg biodata beliau..
    plz..emel sy aunisuraya_86@yahoo.com

    Balas

  9. Oktober 29, 2008

    dede

    mksh ats tulsannya,,, soale aku bsk mau MID dan aku blm pny bhn bcaan ap2. tp dg ini aku jd trbntu.

    Balas

  10. Desember 15, 2008

    solikin

    tolong dong mas konsep filsafatny jugak di ekspos

    Balas

  11. Desember 15, 2008

    riani

    mas, kemana aja sih.. ko’ g’ pernah nampak koneknya?????

    Balas

  12. Desember 15, 2008

    COCO UIN SUSKA RIAU

    TERIMA KASIH ATAS INFORMASINYA.
    SARAN. TAPI JANGAN MARAH YA PAK…….
    KALAU BISA ARTIKELNYA DI PERBANYAK PEMBAHASANNYA DAN LEBIH LUAS PEMIKIRANNYA.
    KIRA-KIRA ADA G’ KONDEP FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM NYA, KALAU ADA TOLONG DI TERBITKAN YA PAK, SAYA SANGAT MENGHARAPKAN KESEDIAAN BAPAK.

    Balas

  13. Januari 14, 2009

    lukmanudin

    Thank’s y ats tulisna, , , aq jd bs nylsain makalah…

    Balas

  14. Januari 14, 2009

    lukmanudin

    thank’s ats tulsana.. aq jd bs nylsain mklah nich ttg filsfat…

    Balas

  15. Januari 27, 2009

    hendra lanti

    buat orang gorontalo yang pemalas jangan heran kalau nantinya masa depan kamu tidak akan jadi orang.

    Balas

  16. Februari 4, 2009

    Siti Rowiyah

    pak, narsis banget sih

    Balas

  17. Februari 11, 2009

    subhan iman

    syukron akhy al karim, terusin perjuangan nulisnya. oc

    Balas

  18. Maret 10, 2009

    Rahmat Saputra

    terima kasih atas di muatnya artikel semacam ini. dan saya mohon untuk diperbanyak lagi pembahasannya mengenai filsafat pendidikan islam sehingga dapat menjadi tambahan ilmu dan juga dapat menambah referensi saya dalam mata kuliah filsafat pendidikan islam yang sedang saya ambil di PPs IAIN Ar-Raniry

    Balas

  19. Maret 11, 2009

    Heri Atmuji, MA

    Trimakasih atas artikelnya Pak, saya selaku Dosen Filsafat disalahsatu pergurun tinggi dilampung,merasa terbantu dengan artikel bapak.sukron….

    Balas

  20. April 4, 2009

    al-ikhwa

    ada gak artikel tentang peranan alam semesta dengan pendidikan islam….
    makasi ntuk informasinya,,,,

    Balas

  21. April 14, 2009

    widya

    terima kasih atas bantuan artikelnya ya pak….

    sangat membantu tugas makalah filsafat saya.

    Balas

  22. April 23, 2009

    rosichin m baladewa

    oke, n salut tulisan nt. salam kenal n please visit

    Balas

  23. Mei 12, 2009

    agus haerudin

    denan adanya filsafat ini saya,senang dapat membantu dalam tugas saya

    Balas

  24. Mei 14, 2009

    m ihsan dacholfany IAI Al-ghrobaa

    PENINGKATAN MUTU PEMBELAJARAN DI SEKOLAH
    OLEH : M.Ihsan Dacholfany (Staf Pengajar SMA Perguruan Nasional Malaka Jak-Tim)

    I. Pendahuluan
    Pendidikan sangat berperan dalam membentuk baik atau buruknya pribadi manusia menurut ukuran normative, menyadari akan hal tersebut, pemerintah sangat serius menangani bidang pendidikan, sebab dengan sistem pendidikan yang baik diharapkan muncul generasi penerus bangsa yang berkualitas dan mampu menyesuaikan diri untuk hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pendidikan pada dasarnya merupakan suatu usaha pengembangan sumber daya manusia ( SDM ), walaupun usaha pengembangan SDM tidak hanya dilakukan melalui pendidikan khususnya pendidikan formal (sekolah). Tetapi sampai detik ini, pendidikan masih dipandang sebagai sarana dan wahana utama untuk pengembangan SDM yang dilakukan dengan sistematis, programatis, dan berjenjang. Kemajuan pendidikan dapat dilihat dari kemampuan dan kemauan dari masyarakat untuk menangkap proses informatisasi dan kemajuan teknologi. Karena Proses informatisasi yang cepat karena kemajuan teknologi semakin membuat horizon kehidupan di dunia semakin meluas dan sekaligus semakin mengerut. Hal ini berarti berbagai masalah kehidupan manusia menjadi masalah global dan tidak dapat dilepaskan dari pengaruh kejadian di belahan bumi yang lain, baik masalah politik, ekonomi, maupun sosial. Manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain; setiap manusia akan selalu membutuhkan dan berinteraksi dengan orang lain dalam berbagai segi kehidupan. Kesetiakawanan sosial yang merupakan bagian dari proses pendidikan dan pembelajaran mempunyai peranan yang sangat kuat bagi individu untuk berkomunikasi dan berinteraksi untuk mencapai tujuan hidupnya. Dalam proses pelaksanaannya di lapangan, kesetiakawanan sosial diwujudkan melalui interaksi antarmanusia, baik individu dengan individu, individu dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok. Apabila dicermati proses interaksi siswa dapat dibina dan merupakan bagian dari proses pembelajaran, seperti yang dikemukan oleh Corey (1986 ) dalam Syaiful Sagala (2003:61) dikatakan bahwa:
    “Pembelajaran adalah suatu proses dimana lingkungan seseorang secara sengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi- kondisi khusus atau menghasilkan respons terhadap situasi tertentu”.
    Dari uraian di atas, proses pembelajaran yang baik dapat dilakukan oleh siswa baik di dalam maupun di luar kelas, dan dengan karakteristik yang dimiliki oleh siswa diharapkan mereka mampu berinteraksi dan bersosialisasi dengan teman-temannya secara baik dan bijak. Dengan intensitas yang tinggi serta kontinuitas belajar secara berkesinambungan diharapkan proses interaksi sosial sesama teman dapat tercipta dengan baik dan pada gilirannya mereka saling menghargai dan menghormati satu sama lain walaupun dalam perjalanannya mereka saling berbeda pendapat yang pada akhirnya mereka saling menumbuhkan sikap demokratis antar sesama.
    Paradigma metodologi pendidikan saat ini disadari atau tidak telah mengalami suatu pergeseran dari behaviourisme ke konstruktivisme yang menuntut guru dilapangan harus mempunyai syarat dan kompetensi untuk dapat melakukan suatu perubahan dalam melaksanakan proses pembelajaran di kelas. Guru dituntut lebih kreatif, inovatif, tidak merasa sebagai teacher center, menempatkan siswa tidak hanya sebagai objek belajar tetapi juga sebagai subjek belajar dan pada akhirnya bermuara pada proses pembelajaran yang menyenangkan, bergembira, dan demokratis yang menghargai setiap pendapat sehingga pada akhirnya substansi pembelajaran benar-benar dihayati.
    Sejalan dengan pendapat di atas, pembelajaran menurut pandangan konstruktivisme adalah: “Pembelajaran dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit ) dan tidak sekonyong-konyong. Pembelajaran bukanlah seperangkat fakta, konsep atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkonstruksi Pembelajaran itu dan membentuk makna melalui pengalaman nyata.” ( Depdiknas,2003:11)
    Implementasi pendekatan konstruktivisme dalam pembelajaran diwujudkan dalam bentuk pembelajaran yang berpusat pada siswa (Student Center ). Guru dituntut untuk menciptakan suasana belajar sedemikian rupa, sehingga siswa bekerja sama secara gotong royong (cooperative learning). Untuk menciptakan situasi yang diharapkan pada pernyataan di atas seorang guru harus mempunyai syarat-syarat apa yang diperlukan dalam mengajar dan membangun pembelajaran siswa agar efektif di kelas, saling bekerjasama dalam belajar sehingga tercipta suasana yang menyenangkan dan saling menghargai (demokratis), di antaranya guru harus lebih banyak menggunakan metode pada waktu mengajar dan menumbuhkan motivasi, hal ini sangat berperan pada kemajuan dan perkembangan siswa. (Slamet, 1987 :92 )
    Kita yakin pada saat ini banyak guru yang telah melaksanakan teori konstruktivisme dalam pembelajaran di kelas tetapi volumenya masih terbatas, karena kenyataan di lapangan kita masih banyak menjumpai guru yang dalam mengajar masih terkesan hanya melaksanakan kewajiban. Ia tidak memerlukan strategi, metode dalam mengajar, baginya yang penting bagaimana sebuah peristiwa pembelajaran dapat berlangsung. Di lapangan masih banyak guru yang masih melakukan cara seperti pendapat di atas, dan diakui bahwa banyaka faktor penyebabnya sehingga kita akan melihat akibat yang timbul pada peserta didik, kita akan sering menjumpai siswa belajar hanya untuk memenuhi kewajiban pula, masuk kelas tanpa persiapan, siswa merasa terkekang, membenci guru karena tidak suka gaya mengajarnya, bolos, tidak mengerjakan tugas yang diberikan guru, takut berhadapan dengan mata pelajaran tertentu, merasa tersisihkan karena tidak dihargai pendapatnya, hak mereka merasa dipenjara, terkekang sehingga berdampak pada hilangnya motivasi belajar, suasana belajar menjadi monoton, dan akhirnya kualitas pun menjadi pertanyaan. Dari permasalahan yang ada, semua elemen sekolah baik itu kepala sekolah, guru dan stakeholders mempunyai tanggung jawab terhadap peningkatan mutu pembelajaran di sekolah terutama guru sebagai ujung tombak di lapangan (di kelas) karena bersentuhan langsung dengan siswa dalam proses pembelajaran. Guru mempunyai tugas dan tanggung jawab yang sangat berat terhadap kemajuan dan peningkatan kompetensi siswa, di mana hasilnya akan terlihat dari jumlah siswa yang lulus dan tidak lulus.
    II. Pembahasan
    A. Hakekat Pendidikan
    Menururt pendapat Ki Hajar Dewantoro dalam Kongres Taman Siswa (1930) mengungkapkan: “Pendidikan. Umumnja berarti daja-upaja untuk memajukan bertumbuhnja budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect) dan tubuh anak…” Dalam arti yang sempit, pendidikan hanya mempunyai fungsi yang terbatas, yaitu memberikan dasar-dasar dan pandangan hidup kepada generasi yang sedang tumbuh, yang dalam prakteknya identik dengan pendidikan formal di sekolah dan dalam situasi dan kondisi serta lingkungan belajar yang serba terkontrol.
    Dalam Kamus Besar bahasa Indonesia (1995:232) menyatakan bahwa pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku sesorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, perbuatan, cara mendidik. Dalam Undang-Undang RI Nomor 20 tahun 2003 Bab I Pasal 1 ayat (1) dikatakan bahwa: ”Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadaian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara .”
    Selanjutnya, Sihombing (2002) dalam Ety Rochaety, dkk (2005:7) bahwa pendidikan mengandung pokok-pokok penting sebagai berikut: “pendidikan adalah proses pembelajaran, pendidikan adalah proses social, pendidikan adalah proses memanusiakan manusia, pendidikan berusaha mengubah atau mengembangkan kemampuan , sikpa, dan perilaku positif, Pendidikan merupakan perbuatan atau kegiatan sadar, Pendidikan berkaitan dengancara mendidik, Pendidikan memiliki dampak lingkungan dan tidak berfokus pada pendidikan formal. Berdasarkan hal tersebut di atas, bahwa pendidikan merupakan sutau sistem yang memiliki kegiatan cukup kompleks, meliputi berbagai komponen yang berkaitan satu dengan yang lain, dengan tujuan untuk membangun masa depan bangsa. Jika menginginkan pendidikan secara teratur , berbagai elemen (komponen ) yang terlibat dalam kegiatan pendidikan perlu dikenal terlebih dahulu.untuk itu diperlukan pengkajian usaha pendidikan sebagai suatu system yang dapat dilihat secara mikro dan makro .
    B. Hakekat Mutu Pendidikan
    Sebelum membahas tentang mutu pendidikan terlebih dahulu akan dibahas tentang mutu dan pendidikan. Banyak ahli yang mengemukakan tentang mutu, seperti yang dikemukakan oleh Edward Sallis (2006 : 33 ) mutu adalah Sebuah filsosofis dan metodologis yang membantu institusi untuk merencanakan perubahan dan mengatur agenda dalam menghadapi tekanan-tekanan eksternal yang berlebihan. Sudarwan Danim (2007 : 53 ) mutu mengandung makna derajat keunggulan suatu poduk atau hasil kerja, baik berupa barang dan jasa. Sedangkan dalam dunia pendidikan barang dan jasa itu bermakna dapat dilihat dan tidak dapat dilihat, tetapi dan dapat dirasakan. Sedangkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (1991 :677 ) menyatakan Mutu adalah (ukuran), baik buruk suatu benda;taraf atau derajat (kepandaian, kecerdasan, dsb) kualitas. Berdasarkan pendapat ahli di atas, dapat disimpulan bahwa mutu (quality) adalah sebuah filsosofis dan metodologis, tentang (ukuran ) dan tingkat baik buruk suatu benda, yang membantu institusi untuk merencanakan perubahan dan mengatur agenda rancangan spesifikasi sebuah produk barang dan jasa sesuai dengan fungsi dan penggunannya agenda dalam menghadapi tekanan-tekanan eksternal yang berlebihan.Peningkatan mutu berkaita n dengan target yang harus dicapai, proses untuk mencapai dan faktor-faktor yang terkait. Dalam peningkatan mutu ada dua aspek yang perlu mendapat perhatian, yakni aspek kualitas hasil dan aspek proses mencapai hasil tersebut. Teori manajemen mutu terpadu atau yang lebih dikenal dengan TQM akhir-akhir ini banyak diadopsi dan digunakan oleh dunia pendidikan dan teori ini dianggap sangat tepat dalam dunia pendidikan saat ini yang pertama kali dikemukakan oleh Nancy Warren, seorang behavioral scientist di United States Navy (Walton dalam Bounds, et. al, 1994). Istilah ini mengandung makna every process, every job, dan every person (Lewis & Smith, 1994). Pengertian TQM dapat dibedakan menjadi dua aspek (Goetsch & davis, 1994). Aspek pertama menguraikan apa TQM. TQM didefinisikan sebagai sebuah pendekatan dalam menjalankan usaha yang berupaya memaksimumkan daya saing melalui penyempurnaan secara terus menerus atas produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan organisasi. Aspek kedua menyangkut cara mencapainya dan berkaitan dengan sepuluh karakteristik TQM yang terdiri atas : (a) focus pada pelanggan (internal & eksternal), (b) berorientasi pada kualitas, (c) menggunakan pendekatan ilmiah, (d) memiliki komitmen jangka panjang, (e) kerja sama tim, (f) menyempurnakan kualitas secara berkesinambungan, (g) pendidikan dan pelatihan, (h) menerapkan kebebasan yang terkendali, (i) memiliki kesatuan tujuan, (j) melibatkan dan memberdayakan karyawan.( Ety Rochaety,dkk,2005 :97 ) Di sisi lain, Zamroni memandang bahwa peningkatan mutu dengan model TQM , dimana sekolah menekankan pada peran kultur sekolah dalam kerangka model TQM. Teori ini menjelaskan bahwa mutu sekolah mencakup tiga kemampuan, yaitu : kemampuan akademik, sosial, dan moral. (Zamroni , 2007 :6 ) Menurut teori ini, mutu sekolah ditentukan oleh tiga variabel, yakni kultur sekolah, proses belajar mengajar, dan realitas sekolah.
    C.Faktor-Faktor Dominan dalam Peningkatan Mutu Pembelajaran di Sekolah
    Selanjutnya untuk meningkatkan mutu sekolah seperti yang disarankan oleh Sudarwan Danim ( 2007 : 56 ), yaitu dengan melibatkan lima faktor yang dominan :Kepemimpinan Kepala sekolah, Siswa; pendekatan yang harus dilakukan adalah “anak sebagai pusat “ sehingga kompetensi dan kemampuan siswa dapat digali sehingga sekolah dapat menginventarisir kekuatan yang ada pada siswa , pelibatan guru secara maksimal , kurikulum dan jaringan kerjasama. Berdasarkan pendapat diatas, perubahan paradigma harus dilakukan secara bersama-sama antara pimpinan dan karyawan sehingga mereka mempunyai langkah dan strategi yang sama yaitu menciptakan mutu dilingkungan kerja khususnya lingkungan kerja pendidikan. Pimpinan dan karyawan harus menjadi satu tim yang utuh (teamwork ) yangn saling membutuhkan dan saling mengisi kekurangan yang ada sehingga target (goals ) akan tercipta dengan baik
    D. Unsur-unsur yang terlibat dalam Peningkatan Mutu Pembelajaran di sekolah
    Unsur yang terlibat dalam peningkatan mutu pendidikan yaitu :
    1. Pendekatan Mikro Pendidikan Yaitu suatu pendekatan terhadap pendidikan dengan indikator kajiannya dilihat dari hubungan antara elemen peserta didik, pendidik, dan interaksi keduanya dalam usaha pendidikan. Berdasarkan tinjauan mikro elemen guru dan siswa yang merupakan bagian dari pemberdayaan satuan pendidikan merupakan elemen sentral.
    Pendidikan untuk kepentingan peserta didik mempunyai tujuan, dan untuk mencapai tujuan ini ada berbagai sumber dan kendala, dengan memperhatikan sumber dan kendala ditetapkan bahan pengajaran dan diusahakan berlangsungnya proses untuk mencapai tujuan. Proses ini menampilkan hasil belajar. hasil belajar perlu dinilai dan dari hasil penilaian dapat merupakan umpan balik sebagai bahan masukan dan pijakan.
    Secara mikro diagram alur proses pendidikan dapat dilihat dibawah ini :

    Dari gambar diatas, bahwa pengetahuan teori yang didapatkan dari seorang guru melalui kualitas manajemen dengan harapan tujuan pendidikan akan tercapai, tujuan akan tercapai jika dibekali dengan bahan sehingga proses pendidikan akan terlaksana dengan baik.
    2. Pendekatan Makro Pendidikan yaitu kajian pendidikan dengan elemen yang lebih luas dengan elemen sebagai berikut: Standarisasi pengembangan kurikulum, Pemerataan dan persamaan, serta keadilan, Standar mutu, Kemampuan bersaing. Tinjauan makro pendidikan menyangkut berbagai hal yang digambarkan dalam dua bagan ( P.H Coombs, 1968 ) dalam Etty Rochaety, dkk (2005 : bahwa pendekatan makro pendidikan melalui jalur pertama yaitu input sumber – proses pendidikan – hasil pendidikan , seperti pada gambar di bawah ini :

    Input sumber pendidikan akan mempengaruhi dalam kegiatan proses pendidikan , dimana proses pendidikan didasari oleh berbagai unsur sehingga semakin siap suatu lembaga dan semakin lengkap komponen pendidikan yang dimiliki maka akan menciptakan hasil pendidikan yang berkualitas. Selanjutnya Syaiful Sagala (2004 : 9) menyatakan solusi manajemen pendidikan secara mikro dan makro yang dituangkan dalam gambar berikut :

    E. Strategi Peningkatan Mutu Pembelajaran di Sekolah
    Secara umum untuk meingkatkan mutu pendidikan harus diawali dengan strategi peningkatan pemerataan pendidikan, dimana unsure makro dan mikro pendidikan ikut terlibat, untuk menciptakan (Equality dan Equity), mengutip pendapat Indra Djati Sidi (2001 : 73) bahwa pemerataan pendidikan harus mengambil langkah sebagai berikut Pemerintah menanggung biaya minimum pendidikan yang diperlukan anak usia sekolah baik negeri / swasta yang diberikan secara individual kepada siswa, Optimalisasi sumber daya pendidikan yang sudah tersedia, antara lain melalui double shift (contoh pemberdayaan SMP terbuka dan kelas Jauh, Memberdayakan sekolah swasta melalui bantuan dan subsidi dalam rangka peningkatan mutu pembelajaran siswa dan optimalisasi daya tampung yg tersedia, Melanjutkan pembangunan Unit Sekolah Baru (USB ) dan Ruang Kelas Baru (RKB ) bagi daerah-daerah yang membutuhkan dengan memperhatikan peta pendidiakn di tiap daerah sehingga tidak mengggangu keberadaan sekolah swasta, Memberikan perhatian khusus bagi anak usia sekolah dari keluarga miskin, masyarakat terpencil, masyarakat terisolasi, dan daerah kumuh, Meningkatkan partisipasi anggota masyarakat dan pemerintah daerah untuk ikut serta mengangani penuntansan wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun. Sedangkan peningkatan mutu sekolah secara umum dapat diambil satu strategi dengan membangun Akuntabilitas pendidikan dengan pola kepemimpinan , seperti kepemimpinan sekolah Kaizen ( Sudarwan Danim, 2007 : 225 ) yang menyarankan :Untuk memperkuat tim-tim sebagai bahan pembangun yang fundamental dalam struktur perusahaan, Menggabungkan aspek aspek positif individual dengan berbagai manfaat dari konsumen, Berfokus pada detail dalam mengimplementasikan gambaran besar tentang perusahaan, Menerima tanggung jawab pribadi untuk selalu mengidentifikasikan akar menyebab masalah, Membangun hubungan antarpribadi yang kuat, Menjaga agar pemikiran tetap terbuka terhadap kritik dan nasihat yang konstruktif, Memelihara sikap yang progresif dan berpandangan ke masa depan, Bangga dan menghargai prestasi kerjaBersedia menerima tanggung jawab dan mengikuti pelatihan, Menantang kebijakan yang sudah diterima serta dukungan inovasi dan kreativitas
    III Kesimpulan
    Kepemimpinan kepala sekolah dan kreatifitas guru yang profesional, inovatif, kreatif, merupakan salah satu tolok ukur dalam Peningkatan mutu pembelajaran di sekolah, karena kedua elemen ini merupakan figur yang bersentuhan langsung dengan proses pembelajaran, kedua elemen ini merupakan fugur sentral yang dapat memberikan kepercayaan kepada masyarakat (orang tua) siswa, kepuasan masyarakat akan terlihat dari output dan outcome yang dilakukan pada setiap periode. Jika pelayanan yang baik kepada masyarakat maka mereka tidak akan secara sadar dan secara otomatis akan membantu segala kebutuhan yang di inginkan oleh pihak sekolah,sehingga dengan demikian maka tidak akan sulit bagi pihak sekolah untuk meningkatkan mutu pembelajaran dan mutu pendidikan di sekolah.
    Daftar Pustaka
    Darmadi, Hamid. 2007. Dasar Konsep Pendidikan Moral. Bandung : Alfabeta.
    Dewantoro, Ki Hajar. 1962. Bagian Pertama: Pendidikan. Jogjakarta : Taman Siswa.
    Edward Sallis. 2006. Total Quality Management In Education (alih Bahasa Ahmad Ali Riyadi ). Jogjakarta : IRCiSoD
    Eti Rochaety,dkk.2005 . Sistem Informamsi Manajemen Pendidikan. Jakarta : bumi Aksara
    Indra Djati Sidi.2003. Menuju Masyarakat Belajar. Jakarta : Logos
    Ismaun. 2007. Filsafat Administrasi Pendidikan. Bandung: Universitas Pendidikan.
    Lalu Sumayang.2003. Manajemen produksi dan Operasi. Jakarta : Salemba Empat
    Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia..1991. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta :Balai Pustaka
    Republik Indonesia. (2003). Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Kloang klede Putra Timur
    Sagala,Syaiful.2005.Administrasi Pendidikan Kontemporer. Bandung: Alfabeta
    —————–.2004. Manajemen Berbasis Sekolah &Masyarakat. Bandaung : alfabeta
    Sudarwan Danim.2007.Visi Baru Manajemen Sekolah. Jakarta : Bumi Aksara
    Suyadi Prawirosentono. 2007 . Filosofi Baru tentang Manajemen Mutu terpadu abad 21. Jakarta : Bumi Aksara
    Zamroni. 2007 . Meningkatkan Mutu Sekolah . Jakarta : PSAP Muhamadiya

    Balas

  25. Mei 25, 2009

    Natsir Al-Irsyad dan Nurul Izzah fizadinajah (anakmu0

    Wujud Kasih SayangNya

    Oleh M Ihsan Dacholfany

    Pagi ini datang ke kantor agak terlambat karena mesti menengok seorang teman yang terbaring dirumah sakit. Teman yang sering berbagi cerita. Sebagai seorang kontraktor dengan kekayaan yang terbilang berlebih mampu memberangkat haji bagi karyawannya. Awalnya dia sendiri adalah orang yang jauh dari agama.

    Tiba-tiba datang penyakit yang membuat tubuhnya menjadi lumpuh. Hartanya yang berlimpah menjadi tidak berarti, berbagai jenis obat-obatan dari yang modern sampai tradisional sia-sia belaka. Sebuah mukjizat terjadi justru dengan melaksanakan sholat 5 waktu dan berdoa secara sungguh-sungguh dirinya menjadi sembuh.

    ‘Menurut dokter sih kena darah tinggi’ katanya. Pernah dibawa berobat ke Tokyo, Singapore, semua dokter angkat tangan. pergi kepengobatan alternatifpun juga dilakukan tidak ada guna. Sewaktu dirumah sakit seorang dokter mengatakan padanya, Bapak kan muslim, kenapa tidak sholat? berdoa kepada Alloh SWT?’ ‘Tau nggak mas agus syafii?’katanya. Perkataan Pak Dokter itu, saya bagaikan tersambar halilintar.’ lanjutnya.

    ‘Saya ini muslim, tapi tidak pernah tahu bagaimana sholat.’ katanya. ‘Sampai akhirnya saya meminta mas agus syafii mengajarkan saya sholat. Rasanya saya malu sudah tua kok malah baru belajar sholat ya?’ katanya, wajahnya memerah, airmatanya tertumpah. Istrinya duduk disebelah Sang bapak dengan sabar menunggu dari semalam.

    Dari saran dokter itulah beliau belajar sholat. Saya menuntunnya untuk sholat. sekalipun masih lemah, tangan dan kakinya belum bisa digerakkan namun niatnya yang sungguh-sungguh mendatangkan keajaiban dalam hidupnya. Perlahan-lahan kaki dan tangannya yang lumpuh sudah bisa digerakkan. Dokter dan banyak teman2 awalnya tidak percaya bahwa penyakit itu bisa disembuhkan. Bahkan bagaimana itu bisa terjadi? Wallahu a’lam. Saya juga tidak tahu didalam kehidupan ini penuh misteri ketika melihat sakitnya beliau. apakah obat yang telah menyembuhkannya? ataukah doanya yang luar biasa?

    Katanya, ‘Yang pasti satu hal Mas Agus syafii, semua ini karena wujud Kasih SayangNya. Alloh mengingatkan saya agar kembali padaNya.’ Karena itulah beliau benar-benar pasrah kepada Alloh SWT. dan ternyata beliau sembuh.

    Sesampai di kantor saya selalu teringat akan doanya yang diucapkan sungguh-sungguh dikala beliau selesai sholat. ‘Ya Alloh aku panjatkan puji syukurku kepadaMu karena sakitku ini adalah wujud kasih sayangMu kepadaku’

    Wassalam,

    Balas

  26. Juni 8, 2009

    cinta suci

    prek…ra urusan ra urunan. apasih ra ana tanggapan balasane….

    Balas

  27. Juni 15, 2009

    Fikri dzakiy Darul muttaqien bogor

    assalam..
    pendefinisian flsafat pend islam sangat berguna bagi umat ynag kelak kan membacanyaa.. cukup sekiann dari saya wassalam..

    Balas

  28. September 28, 2009

    reza

    artikel anda sangat berguna bagi saya.. jd laen kali buat lg dech, spaya pngetahuan kt yang tdk tahu menjadi dapt di mengerty…………

    thanks……

    Balas

  29. Oktober 8, 2009

    arifin

    pak..minta ijin makalahnya saya jadikan bahan presentasi,,terimakasih

    Balas

  30. Oktober 12, 2009

    M. Amin Syah

    Syukran Katsiran buat Antum/antunna atas informasinya

    Balas

  31. Oktober 20, 2009

    kangmas

    bagus

    Balas

  32. November 11, 2009

    Imam khambali(gayam)

    Low da artikel tntng k0nsep2 filsafat dbgi tow.

    Balas

  33. Januari 5, 2010

    ismail

    mas tolong dunk makalah filsafat pendidikan tentang teori pengembangan sumber daya manusia dimuat juga ye……

    Balas

  34. Januari 11, 2010

    taqrib

    filsafat merupakan cinta kedamaian secara rasio, sehingga cinta yang hanya berdasarkan perasaan bukan filosof tap cinta yang sejati, lalu bagaimana dengan cinta seorang hamba terhadap Tuhanya yang tidak pernah tahu wujudnya

    Balas

  35. Februari 6, 2010

    ria_

    Knapa juga gak bisa di download?
    pdhal ne bguna bgt bu8at materi kuliah lowwwww?
    cz maw bca bku malezzzzzz

    Balas

  36. Maret 24, 2010

    Aka

    Mksih atas artikelx sgt brguna bg yg membacax.Bisa nambah khasanah pengthuan khususx FPI.

    Balas

  37. Maret 26, 2010

    diah

    baguus, tapi q mau tanya..
    kalo filsafat pendidikan yang dikembangkan oleh ikhwan al-safa itu tremasuk apa aspek-aspeknya???

    Balas

  38. Maret 26, 2010

    diah

    ehm

    Balas

  39. Maret 29, 2010

    subaweh

    gak jelas kurang singkat

    Balas

  40. April 19, 2010

    suradi

    assalaamualaikum
    aku jadi tmbh pengalaman mas bs tulisan mas !

    Balas

  41. Mei 12, 2010

    udin

    mata kul ni sangad menjengkelkan tp asik pool

    Balas

  42. September 2, 2010

    dharma

    biasanya mempelajari filsafat islam itu agak rumit,,sedikit
    karena dibuituhkan menguras pikiran untuk mengetahui seluk beluknya pak

    tapi dikit saran klw bisa lebih lengkap lagi yah pak..karena ne termasuk media pembelajaran saya di kampus,,
    mkasih jga krna.dengan adanya penjelasan ne,bergna bagi saya n teman2 pak

    I wiss you good luck

    Balas

  43. Oktober 29, 2010

    ivanz

    goooooooooooooooood article

    Balas

  44. Juni 17, 2011

    maldie3 STAI-MU

    artik in bgus bget ya.dg in sy bs thu tntag flsafat

    Balas

Tinggalkan Balasan Cancel reply

Enter your comment here…

Fill in your details below or click an icon to log in:

Gravatar

Email (wajib) (Address never made public)

Nama (wajib)

Situs web

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. ( Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. ( Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. ( Log Out / Ubah )

Batal

Connecting to %s

Beritahu saya balasan komentar lewat surat elektronik.

Blog pada WordPress.com. Theme: Adventure Journal by Contexture International.

<div style=”display: none;”><img src=”//pixel.quantserve.com/pixel/p-18-mFEk4J448M.gif?labels=%2Clanguage.id%2Ctype.wpcom” height=”1″ width=”1″ alt=”” /></div>

Ikuti

Follow “Mustolih Brs”

Get every new post delivered to your Inbox.

Powered by WordPress.com

<p class=”robots-nocontent”><img src=”http://b.scorecardresearch.com/p?cj=1c1=2&c2=7518284&#8243; alt=”” style=”display:none” width=”1″ height=”1″ /></p> <img src=”http://stats.wordpress.com/b.gif?v=noscript&#8221; style=”height:0px;width:0px;overflow:hidden” alt=”” />

Tentang munirshine

lebih jelas tanya langsung
Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s